Tantangan China dalam Menurunkan Emisi: Ketergantungan pada Batu Bara dan Perubahan Iklim
Permintaan listrik di China menjadi sorotan utama dalam upaya global melawan perubahan iklim. Sebagai negara dengan emisi karbon terbesar di dunia, kebijakan energi China memiliki dampak signifikan terhadap upaya penurunan emisi global.
Meskipun China telah mempercepat adopsi teknologi energi bersih, permintaan listrik berbasis batu bara terus meningkat, menciptakan tantangan dalam mencapai target pengurangan emisi. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa permintaan batu bara global akan mencapai rekor baru setiap tahunnya hingga 2027, didorong oleh kebutuhan energi dari China dan India. Pada 2027, permintaan batu bara diperkirakan mencapai 8,9 miliar ton, sekitar 1% lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.
Namun, ada tren positif dalam bauran energi China. Pada 2024, pangsa batu bara dalam pasokan listrik diperkirakan turun di bawah 60%, akibat peningkatan kontribusi energi terbarukan. Selama 10 bulan pertama 2024, pembangkit batu bara menyumbang 58,7% dari total 8.234 terawatt jam (TWh) listrik yang dihasilkan, turun dari 61,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, industri batu bara China tidak terlalu khawatir dengan target emisi nol bersih pada 2060. Beberapa perusahaan energi besar di China, seperti China Resources Power Holdings Co. dan China Huaneng Group Co., telah berinvestasi secara agresif dalam energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, negara ini masih membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru, dengan kapasitas produksi batu bara diperkirakan meningkat menjadi 5 miliar ton per tahun pada 2025, dari 4,1 miliar saat ini.
Dalam upaya mencapai emisi nol bersih, China menghadapi tantangan besar. Laporan BloombergNEF menyatakan bahwa China, Indonesia, dan Vietnam harus mempercepat pengurangan emisi karbon untuk memenuhi target iklim global. Meskipun China berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060, negara ini masih membakar batu bara, minyak, dan gas alam pada tingkat yang tinggi.
Secara keseluruhan, meskipun ada kemajuan dalam transisi energi di China, ketergantungan pada batu bara dan tantangan dalam mencapai target emisi nol bersih pada 2060 tetap menjadi isu penting dalam upaya global melawan perubahan iklim.
